Tivaza

Sering Minum Kopi, Matcha, atau Milk Tea? Ini Dampaknya untuk Tubuh

Kebiasaan mengonsumsi kopi, matcha, dan milk tea setiap hari dapat memberikan pengaruh berbeda bagi tubuh. Kopi dikenal dapat meningkatkan kewaspadaan berkat kandungan kafeinnya. Matcha mengandung kafein, L-theanine, dan katekin yang berpotensi mendukung fungsi kognitif. Sementara itu, milk tea perlu diperhatikan karena kandungan gula, susu, krimer, dan topping tambahannya dapat meningkatkan asupan kalori harian.

Gaya hidup perkotaan membuat banyak orang sulit lepas dari minuman favorit, baik untuk menemani pekerjaan pada pagi hari maupun sebagai teman bersantai pada sore hari. Namun, kebiasaan tersebut tetap perlu diperhatikan. Setiap minuman memiliki komposisi yang berbeda, mulai dari kandungan kafein, antioksidan, gula tambahan, hingga lemak.

Lantas, apakah kopi, matcha, dan milk tea aman dikonsumsi setiap hari? Jawabannya bergantung pada jumlah konsumsi, cara penyajian, waktu minum, serta kondisi kesehatan masing-masing orang. Memahami kandungannya dapat membantu Anda menikmati minuman favorit tanpa mengabaikan kebutuhan tubuh.

Gula Tambahan dan Kalori Tersembunyi dalam Minuman Kekinian

Kopi, matcha, dan milk tea sebenarnya tidak selalu menjadi minuman yang perlu dihindari. Masalah dapat muncul ketika minuman tersebut mengandung banyak gula tambahan, krimer, susu tinggi lemak, atau topping yang meningkatkan asupan energi.

Kopi hitam tanpa gula, misalnya, memiliki komposisi berbeda dari kopi susu dengan sirup dan krimer. Begitu juga matcha murni yang berbeda dari matcha latte dengan pemanis tambahan. Milk tea dengan topping boba pun memiliki kandungan yang berbeda dari teh susu tanpa tambahan topping.

Karena itu, dampak minuman terhadap berat badan dan metabolisme tidak bisa ditentukan hanya dari nama minumannya. Komposisi dan frekuensi konsumsi justru menjadi hal yang perlu diperhatikan.

Kandungan Gula Berlebih pada Minuman Kekinian

Matcha murni memiliki kalori relatif rendah jika disajikan tanpa tambahan pemanis. Namun, matcha latte yang dijual di kedai dapat mengandung gula, sirup, susu kental manis, atau krimer. Hal serupa berlaku pada kopi susu kekinian yang sering menggunakan gula aren, sirup, atau pemanis lainnya.

Milk tea juga perlu diperhatikan, terutama jika disajikan dengan boba, jelly, pudding, atau topping tambahan. Bahan-bahan tersebut dapat meningkatkan kandungan gula dan energi dalam satu gelas.

Penelitian mengenai kandungan nutrisi boba milk tea menunjukkan bahwa komposisinya dapat mengandung gula dan kalori dalam jumlah cukup tinggi. Meski demikian, kandungan setiap produk tidak selalu sama karena bergantung pada resep, ukuran sajian, dan bahan yang digunakan.

Konsumsi gula bebas secara berlebihan dapat meningkatkan asupan energi dan berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyarankan agar asupan gula bebas dibatasi kurang dari 10% dari total energi harian. Menguranginya hingga di bawah 5% juga dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan.

Lonjakan Gula Darah dan Penurunan Energi

Minuman dengan tambahan gula dapat meningkatkan kadar glukosa darah setelah dikonsumsi. Respons tubuh terhadap gula berbeda-beda, bergantung pada jumlah gula, komposisi minuman, serta kondisi metabolisme seseorang.

Sebagian orang mungkin merasa lebih berenergi setelah mengonsumsi minuman manis. Namun, sensasi tersebut tidak selalu bertahan lama. Pada kondisi tertentu, perubahan kadar glukosa darah dapat disertai rasa lelah, lapar kembali, atau sulit berkonsentrasi.

Istilah sugar crash sering digunakan untuk menggambarkan rasa lemas setelah mengonsumsi makanan atau minuman manis. Namun, kondisi ini tidak selalu terjadi pada setiap orang dan tidak tepat jika seluruhnya dijelaskan sebagai akibat pankreas memproduksi insulin secara berlebihan.

Jika Anda sering mengonsumsi minuman manis, perhatikan pula total asupan gula dari makanan lain sepanjang hari. Mengurangi tingkat kemanisan minuman dan membatasi topping dapat menjadi langkah sederhana untuk mengendalikan asupan gula.

Pengaruh Kopi, Matcha, dan Milk Tea terhadap Kesehatan Pencernaan

Sistem pencernaan dapat merespons kandungan dalam kopi, matcha, dan milk tea secara berbeda. Kafein, susu, pemanis, serta bahan tambahan lainnya dapat memengaruhi kenyamanan saluran cerna pada sebagian orang.

Respons tersebut tidak selalu menunjukkan adanya penyakit. Namun, apabila keluhan muncul berulang setelah mengonsumsi minuman tertentu, kebiasaan tersebut perlu dievaluasi.

Pengaruh Kopi terhadap Lambung

Kopi dapat merangsang produksi asam lambung dan aktivitas saluran pencernaan. Pada sebagian orang, konsumsi kopi juga dapat memicu atau memperburuk keluhan seperti sensasi panas di dada, nyeri ulu hati, atau refluks asam lambung.

Meski demikian, kopi tidak otomatis menyebabkan luka atau peradangan lambung pada setiap orang. Toleransi terhadap kopi berbeda-beda, termasuk pada orang yang memiliki riwayat gangguan pencernaan.

Jika Anda mengalami keluhan setelah minum kopi, cobalah memperhatikan jumlah konsumsi, kekuatan seduhan, dan waktu meminumnya. Mengurangi porsi atau menghentikan sementara konsumsi dapat membantu mengetahui apakah kopi menjadi salah satu pemicu keluhan.

Hindari memaksakan diri mengonsumsi kopi apabila keluhan terus muncul. Jika nyeri ulu hati, sensasi terbakar di dada, atau gangguan pencernaan berlangsung berulang, sebaiknya konsultasikan dengan dokter.

Efek Kafein dan L-Theanine pada Matcha

Matcha merupakan bubuk teh hijau yang mengandung kafein, L-theanine, dan katekin. Salah satu katekin yang banyak dibahas dalam penelitian adalah EGCG atau epigallocatechin gallate, yaitu senyawa polifenol yang memiliki aktivitas antioksidan.

Kombinasi kafein dan L-theanine pada teh hijau telah diteliti terkait perhatian, suasana hati, dan fungsi kognitif. Beberapa penelitian menunjukkan adanya potensi manfaat terhadap aspek tertentu dari konsentrasi dan kewaspadaan.

Namun, bukan berarti matcha selalu memberikan energi lebih stabil atau tidak menimbulkan efek samping. Matcha tetap mengandung kafein sehingga konsumsi berlebihan dapat menyebabkan jantung berdebar, gelisah, sakit kepala, atau gangguan tidur pada orang yang sensitif.

Selain itu, konsumsi teh dalam jumlah besar, terutama bersamaan dengan waktu makan, berpotensi memengaruhi penyerapan zat besi non-heme dari makanan nabati. Orang dengan risiko kekurangan zat besi dapat memperhatikan jarak waktu minum teh dengan waktu makan atau konsumsi suplemen zat besi.

Efek Laktosa dan Pemanis pada Usus

Milk tea umumnya dibuat dari teh yang dicampur susu atau bahan pengganti susu. Pada orang yang mengalami intoleransi laktosa, susu sapi dapat memicu kembung, nyeri perut, banyak gas, atau diare.

Keluhan tersebut terjadi karena tubuh tidak menghasilkan cukup enzim laktase untuk mencerna laktosa secara optimal. Kondisi ini berbeda dengan alergi protein susu yang melibatkan respons sistem kekebalan tubuh.

Topping seperti boba atau tapioka pada dasarnya merupakan sumber karbohidrat berbasis pati. Bahan ini tidak otomatis memperlambat gerak usus atau menyebabkan sembelit pada semua orang. Keluhan pencernaan dapat dipengaruhi oleh keseluruhan komposisi minuman, jumlah konsumsi, dan kondisi individu.

Jika Anda sering mengalami kembung setelah minum milk tea, perhatikan apakah keluhan muncul setelah mengonsumsi susu. Alternatif seperti susu bebas laktosa atau minuman nabati dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan. Perlu diingat, susu oat dan susu nabati lainnya tidak otomatis lebih sehat karena beberapa produk juga mengandung gula tambahan.

Perbandingan Kandungan Nutrisi dan Efek Samping Minuman Populer

Setiap minuman memiliki karakteristik yang berbeda. Berikut gambaran umum kandungan dan hal yang perlu diperhatikan:

Kopi hitam atau espresso

  • Kandungan utama: kafein dan senyawa polifenol, termasuk asam klorogenat.
  • Potensi manfaat: membantu meningkatkan kewaspadaan dan mengurangi rasa kantuk untuk sementara.
  • Hal yang perlu diperhatikan: konsumsi berlebihan dapat menyebabkan gelisah, jantung berdebar, dan gangguan tidur. Pada sebagian orang, kopi juga dapat memperburuk gejala refluks.

Matcha atau teh hijau bubuk

  • Kandungan utama: kafein, L-theanine, dan katekin seperti EGCG.
  • Potensi manfaat: mengandung senyawa antioksidan dan berpotensi mendukung perhatian serta fungsi kognitif.
  • Hal yang perlu diperhatikan: tetap mengandung kafein dan dapat menimbulkan mual atau gangguan tidur pada orang yang sensitif. Konsumsi teh berdekatan dengan waktu makan juga perlu diperhatikan pada orang yang berisiko kekurangan zat besi.

Milk tea atau boba milk tea

  • Kandungan utama: teh, susu atau krimer, gula tambahan, dan terkadang topping berbasis pati.
  • Potensi manfaat: dapat menjadi sumber energi, sementara kandungan teh menyumbang senyawa polifenol.
  • Hal yang perlu diperhatikan: gula, krimer, dan topping dapat meningkatkan asupan kalori. Kandungan susu juga dapat memicu keluhan pada orang dengan intoleransi laktosa.

Tidak ada satu minuman yang otomatis paling sehat untuk semua orang. Kopi hitam tanpa gula mungkin lebih rendah kalori dibandingkan milk tea dengan topping, tetapi kandungan kafeinnya tetap perlu diperhitungkan. Matcha juga dapat menjadi pilihan, selama jumlah kafein dan tambahan pemanisnya sesuai dengan kebutuhan.

Saran Pengaturan Porsi dan Pola Konsumsi Harian

Menjaga kesehatan tidak berarti harus berhenti menikmati kopi, matcha, atau milk tea. Hal yang lebih penting adalah memahami kandungan minuman, mengatur frekuensi, serta menyesuaikannya dengan kondisi tubuh.

Berikut beberapa kebiasaan yang dapat diterapkan:

1. Perhatikan Total Asupan Kafein

Kafein tidak hanya berasal dari kopi. Matcha, teh, minuman energi, cokelat, dan beberapa produk lainnya juga dapat menyumbang asupan kafein harian.

Menurut FDA, konsumsi hingga 400 mg kafein per hari umumnya tidak dikaitkan dengan efek negatif pada sebagian besar orang dewasa yang sehat. Namun, angka tersebut bukan target konsumsi dan bukan batas yang cocok untuk semua orang. Sensitivitas individu, kondisi kesehatan, obat-obatan, serta kehamilan dapat memengaruhi toleransi kafein.

2. Kurangi Gula Tambahan

Jika terbiasa memesan kopi susu atau matcha latte, Anda dapat mulai mengurangi tingkat kemanisannya secara bertahap. Pilih ukuran lebih kecil dan batasi penggunaan sirup, gula cair, krimer manis, serta topping tambahan.

Untuk milk tea, Anda juga dapat memilih teh tanpa pemanis atau meminta tingkat gula yang lebih rendah. Kebiasaan sederhana ini membantu mengendalikan asupan gula tanpa harus langsung menghilangkan minuman favorit.

3. Hindari Minum Kafein Terlalu Dekat dengan Waktu Tidur

Kafein dapat bertahan di dalam tubuh selama beberapa jam. Karena itu, minum kopi atau matcha menjelang waktu tidur dapat membuat sebagian orang sulit terlelap atau mengurangi kualitas tidurnya.

Cobalah mengatur waktu konsumsi lebih awal. Jika Anda merasa tidur terganggu setelah minum kopi pada sore hari, pertimbangkan untuk mengurangi jumlahnya atau memilih minuman bebas kafein.

4. Jangan Menggunakan Minuman Manis sebagai Pengganti Makan

Kopi susu, matcha latte, dan milk tea tidak dapat menggantikan makanan utama yang mengandung karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral dalam komposisi seimbang.

Minuman manis mungkin memberikan energi, tetapi belum tentu menyediakan zat gizi yang dibutuhkan tubuh. Tetap utamakan makanan bergizi seimbang dan air putih sebagai pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan.

5. Kenali Respons Tubuh

Setiap orang memiliki toleransi berbeda terhadap kafein, susu, dan gula. Perhatikan apakah muncul keluhan seperti jantung berdebar, sulit tidur, perut kembung, diare, atau nyeri ulu hati setelah mengonsumsi minuman tertentu.

Jika keluhan berulang, catat jenis minuman, jumlah, dan waktu konsumsinya. Informasi ini dapat membantu dokter atau tenaga kesehatan menilai kemungkinan pemicunya.

Kapan Perlu Berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Gizi Klinik?

Kebiasaan mengonsumsi kopi, matcha, dan milk tea perlu dilihat sebagai bagian dari pola makan sehari-hari. Jika Anda sedang menjalani program penurunan berat badan, memiliki diabetes, gangguan metabolisme, atau kondisi kesehatan tertentu, pemilihan minuman sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi.

Konsultasi dengan dokter spesialis gizi klinik dapat membantu mengevaluasi pola makan, kebutuhan energi, asupan gula, serta kebiasaan konsumsi kafein. Dokter juga dapat memberikan rekomendasi yang lebih sesuai dengan kondisi kesehatan dan tujuan Anda.

Butuh Bantuan Mengatur Pola Makan dan Konsumsi Minuman Harian

Jangan tunggu sampai keluhan mengganggu aktivitas. Konsultasikan kebutuhan gizi Anda dengan tenaga medis yang tepat.

Hubungi Kami Sekarang

 

Alamat Klinik:
📍 Tivaza Jakarta
Jl. Panglima Polim IV No.17, RT.4/RW.6, Melawai, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan

Jam Operasional:
Senin – Jumat : 09.00 – 20.00
Sabtu: 09.00 – 18.00
Minggu: Tutup

Cabang lainnya:

  • Tivaza Clinic – Jl. Dr. Rajiman No.16, Bandung
  • Tivaza Light Jl. Raya Bojongsoang No.350, Kab. Bandung

Tivaza Jakarta memiliki Media Social yang dapat Anda akses :
Instagram : https://www.instagram.com/tivazaclinic/
Tiktok : https://www.tiktok.com/@tivazaclinic/
Facebook : https://www.facebook.com/Tivaza-Clinic/

Baca juga:

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *